Rabu, 03 Desember 2014

TIDUR BERALAS TIKAR TIPIS

Mengumpulkan mahasiswa yang belum saling kenal untuk bekerja dalam satu tim selama dua hari (20-21 November) secara live in di kawasan huntap Cangkringan, Sleman bukanlah pekerjaan mudah. Diawali dengan mengundang mahasiswa melalui sebuah media sosial. Tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, ternyata animo mahasiswa yang ingin mendaftar sangat tinggi hingga berjumlah 42 orang, sementara yang dibutuhkan hanya 15 orang reporter.
Waktu yang sangat pendek untuk melakukan seleksi (kurang dari sebulan) tidak mengurungkan tekad Swara Kampus membentuk Tim Ekspedisi Reportase untuk yang pertama kali. Pendaftar diseleksi berdasarkan kiriman contoh hasil liputan/tulisan ke alamat email swaka, dan hingga batas waktu yang sudah ditetapkan terpilihlah 15 orang anggota tim.
Mahasiswa yang tergabung berasal dari beragam daerah yakni DIY, Jateng dan Jatim. Anggota tim terdiri dari: Anisa Alfi Nur Fadilah (UNISBA – Blitar), Susi Lestari (UNNES – Semarang), Dian Nurhayati (Vokasi UGM), Nani Kurniasih (UIN Yogyakarta), Melawati Nur Kamilah (Vokasi UGM), Listi Wulandari (Vokasi UGM), Muhammad Rifqi Afdillah (Vokasi UGM), Risma Dewi Purwita (UPY), Ofirisa Utami (UST Yogyakarta), Vikra Alizanovic (UGM), Ilmiyanti (UMY), Rema Apriiawan (UMY), dan Ali Akbar (UMY).
Tahap berikutnya segera menyiapkan pembekalan dengan tujuan untuk pembagian tugas dalam sebuah team work, mengenal lokasi dan kontens serta memahami tugas-tugas di lapangan. Dengan cepat anggota tim saling berinteraksi akrab karena penugasan peliputan dibagi ke dalam lima kelompok sesuai dengan topik masing-masing. Persiapan telah dilakukan dan Tim mulai bergerak pada Kamis (20/11) pagi menuju lokasi Huntap Pagerjurang.
Ternyata tidak semua anggota pernah melakukan peliputan kawasan semacam ini. Enggar dan Listi mengaku sedikit minder kepada anggota lain yang dianggapnya sudah sering membuat tulisan hasil liputan semacam ini, “Kami masih harus banyak belajar dari teman-teman di Swara Kampus,” ujar Listi. Sebaliknya bagi Susi dan Anisa meski mengaku hobi menulis namun mereka menyadari sebagai mahasiswa luar daerah mereka tidak begitu menguasai medan, “Baru datang tadi malam dari Blitar langsung berangkat ke lokasi, perlu penyesuaian cuaca,” ucap Anisa sambil tersenyum, “Saya malah hampir tidak bisa sampai Yogya karena sulitnya kendaraan umum dari Semarang,” tambah Susi.
Perjalanan ditempuh kurang lebih setengah jam melalui jalan menanjak dan masih tampak rerimbunan hijau pohon mahoni. Tiba di lokasi anggota tim langsung menyebar guna melakukan observasi dan juga mengejar narasumber untuk wawancara. Berbekal semangat serta keterampilan para reporter bergerak cepat dari satu titik ke titik yang lain. Tim baru berhenti “berburu” berita saat sore menjelang, dan seluruh anggota tim berkumpul melakukan evaluasi bersama, sharing, saling memberi masukan, serta menambah informasi. Beberapa masalah yang ditemui di lapangan pun disampaikan untuk dibahas berasama dan dicarikan penyelesaiannya.
Saat malam hingga larut beberapa liputan masih dilakukan (tidak jarang harus menempuh jalan yang licin, sulit dan berbahaya akibat sisa lahar dingin). Sebagian melakukan diskusi kecil dengan kelompoknya dan sebagian lagi ada yang sudah mulai membuat kerangka tulisan atau sekedar mengetik “catatan kecil” selama peliputan. Komunikasi tetap dilakukan satu sama lain, bahkan bercanda atau jalan-jalan bersama kadang menjadi aktivitas yang bisa menghilangkan tekanan karena mengejar deadline yang hanya diberikan waktu selama dua hari. Kompak, akrab dan saling membantu merupakan kunci dari kerja tim ekspedisi, termasuk saat istirahat malam rela berdesakan di sebuah rumah pondokan kecil dan hanya beralas tikar tipis.
Kesemua anggota mengaku merasa betah berada di lokasi huntap Cangkringan karena suasananya yang nyaman dengan udara sejuk serta masyarakatnya ramah-ramah. Tidak kalah penting dalam tim sendiri suasana kekeluargaan semakin terasa, karena baru kenal dan berasal dari daerah berbeda sehingga banyak cerita dan pengalaman yang bisa mereka share, “Senang bertemu dengan teman-teman baru dalam tim. Mereka lucu-lucu tapi juga hebat-hebat, menyenangkan deh pokoknya bisa menambah saudara dan pengalaman,” cerita Nani.
Pada akhirnya tugas peliputan merupakan ajang untuk saling belajar, karena banyak hal baru yang bisa ditemukan baik saat melakukan observasi maupun wawancara. Hal yang paling bisa dijadikan sebuah pelajaran bahwa apapun bisa dilakukan sepanjang ada rasa saling membutuhkan serta semangat kebersamaan. Menghuni sebuah kawasan baru dalam jumlah besar tentu membutuhkan adaptasi dan perubahan kebiasaan maupun pola pikir. Warga huntap di Cangkringan berjuang untuk itu, berjuang demi hidup dan kehidupan anak cucu mereka kelak. Petualangan Tim Ekspedisi Swara Kampus KR pun berakhir sementara dan bersiap untuk tugas peliputan baru di sebuah kawasan baru.
Dari Lembah Merapi                
Pagerjurang, Cangkringan - Sleman.

(Tim Ekspedisi Swara Kampus KR)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar